Rubrik Teknologi

Laman

Kamis, 29 Juni 2017

Samsung Galaxy Note FE Mulai Dijual 7 Juli

INILAHCOM, Seoul - Samsung berencana untuk merilis Galaxy Note 7 versi rekondisi atau yang kabarnya bakal hadir dengan nama Galaxy Note FE pada pekan depan.

Kantor berita Yonhap melaporkan, Samsung akan merilis perangkat berjenis phablet itu dengan banderol di bawah 700 ribu won (sekitar Rp8,1 juta) dengan penjualan resmi mulai 7 Juli 2017.

Raksasa teknologi Korea Selatan itu menghentikan produksi dan penjualan Galaxy Note 7 tahun lalu di tengah laporan bahwa beberapa perangkat tersebut terbakar ketika diisi daya. Diperkirakan masalah ada pada baterai yang tidak dapat dilepas.

Dengan demikian, perangkat rekondisi tersebut akan memiliki kapasitas baterai lebih kecil dari versi aslinya. Namun, perangkat tersebut akan membawa software terbaru di dalamnya.

Samsung telah merencanakan untuk merilis Galaxy Note FE di tengah kritik yang meminta untuk benar-benar membuang semua Galaxy Note 7 yang dibeli kembali dari konsumen tersebut atau tidak menjualnya yang dikhawatirkan dapat berdampak buruk terhadap lingkungan.


Samsung Galaxy Note FE Mulai Dijual 7 Juli Baca Berita Dari Sumber http://ift.tt/2t6SUOk

AeroMobil Siap Produksi Mobil Terbang Mulai 2020

INILAHCOM, Paris - AeroMobil memamerkan sebuah kendaraan masa depan yang bisa mengudara juga melaju di darat pada pameran Paris Air Show tahun ini.

Kendaraan terbang dari perusahaan asal Slovakia ini terlihat unik dengan moncong bundar dan sayap bisa dilipat, yang menurut rencana akan diproduksi secara berseri pada 2020.

"Setelah Anda mendarat di bandara, Anda bisa mengubah pesawat menjadi mobil dan berjalan ke manapun Anda inginkan," ujar Simon Bendrey, wakil kepala teknik AeroMobil, kepada AFP.

AeroMobil mengklaim telah menerima sejumlah pesanan, meski kendaraan itu dijual pada kisaran harga 1,2 juta euro (sekitar Rp18 miliar) hingga 1,5 juta euro (sekitar Rp23 miliar)

Mobil terbang yang semula hanya muncul di sejumlah film akan menjadi kenyataan menyusul banyak perusahaan teknologi yang mengembangkan kendaraan seperti itu.

Kepala laboratorium aerospace Perancis (ONERA) Bruno Sainjon, di sela-sela Paris Air Show, mengatakan bahwa masa depan yang sesungguhnya adalah 'sistem transportasi udara yang sesuai permintaan, yang jelas merupakan awal di era baru penerbangan', misalnya layanan taksi terbang.


AeroMobil Siap Produksi Mobil Terbang Mulai 2020 Baca Berita Dari Sumber http://ift.tt/2trMeg8

Nokia 6 Segera Hadir di AS Awal Juli

INILAHCOM, San Francisco - HMD Global baru saja mengumumkan bahwa Nokia 6 akan segera tiba di AS pada awal Juli mendatang.

Smartphone ini akan tersedia di Amazon dalam varian warna Matte Black dan Silver seharga US$229 atau sekitar Rp3 juta.

Diperkirakan warna Tempered Blue dan Copper akan menyusul pada akhir musim panas namun belum bisa dipastikan kapan.

Nokia 6 tampil dengan layar 5,5 inci dengan resolusi Full-HD 1080p yang dilindungi Gorilla Glass 3 dan ditenagai prosesor kelas menengah dari Qualcomm, yakni Snapdragon 430, yang didukung RAM 3GB serta kapasitas penyimpanan internal 32GB.

Varian yang hadir di AS akan memakai dual kartu SIM., demikian laporan Phone Arena.


Nokia 6 Segera Hadir di AS Awal Juli Baca Berita Dari Sumber http://ift.tt/2t6nUhu

Seperti Apa Ransomware Petya Itu?

AS dan Eropa kembali dihebohkan dengan serangan program jahat komputer atau ransomware jenis baru bernama Petya yang menyandera dokumen korban dengan algoritma enkripsi khusus.

Ransomware tersebut tersebar ke perusahaan besar, termasuk produsen makanan Mondelez, firma hukum DLA Piper, raksasa farmasi Merck & Co, dan jasa angkutan kapal Denmark Maesk.

Baca juga: Ransomware Serang Jaringan Komputer Dunia

Serangan siber itu menginfeksi data di komputer, membuatnya terkunci sehingga perlu ditebus dengan sejumlah uang.

Sebelumnya, jagad internet global juga diserang ransomware WannaCry yang menginfeksi sekitar 230 ribu komputer di lebih dari 150 negara beberapa bulan lalu.

The Guardian memaparkan seperti apa ransomware Petya itu:

Bagaimana Petya bekerja?

Ransomware adalah salah satu tipe malware yang memblokir akses ke data atau komputer dan meminta tebusan untuk memperbaikinya.

Apabila perangkat komputer terinfeksi, maka dokumen penting terenkripsi dan pengguna harus membayar, biasanya dalam Bitcoin, untuk mendapatkan kunci digital pembuka berkas.

Baca juga: Serangan Siber Global Rambah AS

Begitu terkena Petya, penyerang meminta US$300 yang dibayar dalam Bitcoin. Ransomware ini cepat menyebar dalam sebuah orginasis jika ada satu komputer yang terinfeksi, peretas memanfaatkan kelemahan di Microsoft Windows.

“Mekanisme penyebarannya lebih bagus dari WannaCry,” kata Ryan Kalember dari perusahaan keamanan siber Proofpoint.

Mengapa bernama Petya?

Malware tersebut berbagi kode tertentu dari ransomware lama bernama Petya. Beberapa jam setelah wabah, ahli keamanan siber melihat 'kemiripannya hanya di permukaan'.

Baca juga: Serangan Global Ransomware dari Jenis Baru

Kasperksy Lab Rusia menyebutnya NotPetya. Malware itu diduga menyebar melalui pembaruan software yang dikerjakan oleh perusahaan, untuk digunakan Pemerintah Ukraina.

Siapa dalangnya?

Belum diketahui siapa individu atau kelompok di balik ransomware Petya.

Ahli keamanan internet Nicholas Weaver menyebut Petya sebagai 'serangan terencana, jahat dan menghancurkan atau juga tes yang disamarkan sebagai ransomware'.

Pakar anonim yang dipanggil Grugq menyebut Petya adalah perusahaan kriminal untuk mencari uang, tapi, versi terbaru ini tidak dirancang untuk menghasilkan uang.

“Ini dirancang untuk menyebar cepat dan membuat kerusakan, dengan samaran yang masuk akal ransomware,” katanya.

Para pakar keamanan internet menilai metode pembayaran serangan ini terlalu amatir untuk seorang pelaku kriminal karena alamat pembayaran Bitcoin selalu sama.

Kebanyakan ransomware membuat alamat berbeda untuk setiap korban.

Alasan kedua, malware itu juga meminta korban untuk berkomunikasi dengan penyerang melalui satu alamat email, yang sudah ditangguhkan begitu ketahuan digunakan untuk aksi kejahatan.

Artinya, apabila korban membayar, mereka pun tidak bisa berkomunikasi dengan penyerang untuk meminta kunci dekripsi pembuka berkas.
 


Seperti Apa Ransomware Petya Itu? Baca Berita Dari Sumber http://ift.tt/2tpJiRe

Google Didenda Rp36 Triliun di Eropa

INILAHCOM, Brussels - Google diharuskan membayar denda 2,42 miliar euro atau sekitar Rp36 triliun oleh Komisi Eropa setelah dinyatakan menyalahgunakan keunggulan untuk mempromosikan layanan belanja mereka.

Tindakan Google tersebut membuat perbandingan harga yang mereka lakukan selalu berada di posisi teratas hasil pencarian yang dilakukan pengguna.

Mengutip BBC, layanan Google Shopping memperlihatkan foto produk yang dicari pengguna dan nama-nama toko yang menyediakan produk tersebut. Dengan label 'sponsored' pada produk tersebut, artinya penyedia produk membayar kepada Google agar produk mereka sengaja dimunculkan.

Dalam pencarian yang dilakukan melalui telepon genggam, fasilitas ini berada di posisi atas, yang berimplikasi pengguna mungkin tidak akan melihat tautan-tautan lain, kecuali mereka melihat lebih ke bawah lagi.

Google juga mendapat keuntungan karena layanan belanja mereka secara visual lebih menonjol dibandingkan iklan berbasis teks.

Ini adalah denda terbesar yang pernah diputuskan Komisi Eropa, yang menuding Google telah mendistorsi persaingan yang sehat di pasar.

Komisi Eropa juga memerintahkan Google mengakhiri praktik yang bertentangan dengan prinsip persaingan yang sehat tersebut. Jika keputusan tidak diterapkan dalam masa 90 hari, maka Google akan menghadapi sanksi lanjutan.

Jika nantinya Google dinyatakan tidak mengindahkan keputusan Komisi Eropa dalam tiga bulan, mereka bisa dipaksa membayar 5 persen dari penerimaan harian secara global yang didapatkan perusahaan induk Google, Alphabet.

Penerimaan harian Alpabhet dilaporkan mencapai US$14 juta per hari.

"Apa yang dilakukan Google melanggar aturan kompetisi yang sehat di Uni Eropa," kata Margrethe Vestager, komisioner persaingan Komisi Eropa.

"Mereka mencegah persaingan dari perusahaan-perusahaan lain dan yang terpenting mereka menghalangi konsumen mendapat keuntungan dari persaingan yang sehat," imbuhnya.

Google bisa mengajukan banding atas keputusan Komisi Eropa.

Sebelumnya Google mengatakan bahwa Amazon dan eBay punya pengaruh yang lebih besar terhadap kebiasaan pembelanja online dan berpandangan bahwa opini Komisi Eropa 'tidak sesuai dengan realitas bagaimana orang-orang berbelanja online'.

Bagaimanapun, keputusan ini bisa menjadi preseden bagaimana Komisi Eropa menangani keberatan yang terkait dengan dominasi Google di sejumlah layanan, seperti peta, perbandingan harga tiket pesawat, dan hasil pencarian bisnis lokal.

Protes atas layanan belanja Google antara lain diajukan oleh Microsoft yang sejauh ini belum mengeluarkan komentar.

Komisi Eropa menyelidiki layanan belanja Google sejak akhir 2010.


Google Didenda Rp36 Triliun di Eropa Baca Berita Dari Sumber http://ift.tt/2tpoIR5

Melihat Proses Pembuatan Permen Kacang Jeli

INILAHCOM, Jakarta - Rata-rata kita semua sudah pernah mencoba permen kacang jeli ketika kecil dulu. Penasarankah seperti apa proses pembuatannya?

Saluran Community Balance di YouTube melalui video terbaru unggahannya coba menjelaskan proses pembuatan permen kacang jeli di pabrik.

Kacang jeli (bahasa Inggris: jelly bean) adalah sejenis permen dalam beraneka macam rasa buah. Ukurannya sebesar kacang merah yang biasa dibuat sup atau lebih kecil. Permen ini keras di luar tetapi lunak di dalam serta lengket bila digigit.

Komposisi permen ini sebagian besar terdiri dari gula, sirup jagung, dan pati. Di antara perisa alami dan perisa buatan yang sering dipakai adalah cokelat, sari kelapa, sari buah, kacang, vanila, telur, susu, atau bubuk buah kering.

Tonton videonya di bawah ini:


Melihat Proses Pembuatan Permen Kacang Jeli Baca Berita Dari Sumber http://ift.tt/2toH98s

Seni Melukis Wajah dengan Teknologi AI

INILAHCOM, San Francisco- Teknologi artificial intelligence (AI) atau kepintaran buatan kini sudah mulai diaplikasikan ke bidang seni. Contohnya adalah pada lukisan wajah.

Kolektif seniman Most Famous Artist di proyek terbarunya menggunakan teknologi kepintaran buatan untuk mengerjakan lukisan wajah manusia.

Salah satu seniman dari Most Famous Artists, Matty Mo, mengerjakan lukisan berbasis Artifical Intelligence (AI) ini dengan bantuan program komputer dengan teknologi tersebut.

Hingga saat ini program komputer AI tersebut masih terus dikembangkan dan diperbaiki.

"Para seniman terbaik menggunakan alat-alat terbaik untuk menceritakan masa di saat mereka hidup, oleh karena itulah saya juga mengikuti jejak mereka, dengan menggunakan teknologi terbaru," terang Mo.

Sepertinya dunia seni harus mulai menyambut masa depan yang kian cerah untuk mereka.


Seni Melukis Wajah dengan Teknologi AI Baca Berita Dari Sumber http://ift.tt/2unsE1z